Streetwise


Deng deng Tet tet deng deng tet tet deng deng tet tet deng deng tet…
Bunyi nada keluar dari handphone di level lima. Posisi speakernya terletak di lima centimeter pendengaran kananku. Mata yang tertutup perlahan terbuka dengan penuh kemalasan.
Sang fajar tidak terlihat kala itu. Aku terlambat membuka mata untuk memandangnya. Hanya tatapan mentari awal yang bisa dilihat. Itu-pun dari balik kaca berdebu.
Sebelumnya, mataku terbuka melebihi waktunya. Aku memang sengaja dan terpaksa membukanya lebih lama. Tugas makalah yang membuatnya begitu. Bukan hanya penglihatan yang harus terus terbuka. Isi otak juga harus aku tuangkan untuknya.
Hari-hari di bulan itu hidupku di buntuti tujuh tugas makalah. Lima makalah harus jatuh ke tangan dosen pertengahan bulan depan. Tepatnya di hari H ujian akhir semester. Yang dua, makalahku harus bisa di pegang dosen dua minggu kemudian. Dan itu, harus aku pertanggungjawabkan di hadapannya, dan dihadapan teman-teman sekelas.
Tujuh makalah ini berasal dari enam mata kuliah dengan lima dosen di belakangnya. Aturan mainnya cukup bermacam-macam.
Satu dosen menginginkan tulisan makalah dengan hurup komputer. Bentuk hurupnya times new roman, spasi satu koma lima, ukuran empat tiga empat tiga.
Dosen lain menginginkan makalah di tulis dengan tangan mahasiswa. Tidak ada bentuk dan jenis hurup yang diwajibkan. Yang jelas, dosen bisa membacanya.
Dari reperensi, satu dosen mengharuskan minimal dua buku sebagai rujukan. Dosen lain mengharuskan minimal empat buku. Dosen lainnya mengharuskan minimal tujuh buku.
Dari halaman, satu dosen mengharuskan sepuluh halaman. Itu termasuk cover, kata pengantar daftar isi dan daftar pustaka. Dosen lain menginginkan sepuluh halaman belum termasuk cover, kata pengantar, daftar isi atau daftar pustaka. Dosen lain menginginkan minimal lima belas halaman. Itu sudah termasuk cover, kata pengantar, daftar isi, atau daftar pustaka. Dosen lainnya mengharuskan minimal tiga puluh halaman. Itu sudah termasuk cover, kata pengantar, daftar isi, atau daftar pustaka.
Perbedaan ini terjadi pula pda kerangka makalah. Secara umum, ketujuh makalah itu memiliki kerangka yang sama. Ada pendahuluan, ada pembahasan dan ada penutup. Dari ke tiga unsure itu, tiap dosen memiliki cabang yang berbeda. Bahkan ada yang tidak bercabang.
Satu dosen mengharuskan memakai kata pengantar, daftar isi. Bab pendahuluan harus memiliki dua sub bab; latar belakang masalah dan rumusan masalah.
Latar belakang masalah berisi rangsangan awal tentang pembahasan yang akan dituangkan dalam pembahasan makalah. Rumusan masalah berisi batasan permasalahan dalam makalah. Biasanya, rumusan makalah ini berbentuk pernyataan. Rumusan makalah membantu memfokuskan permasalahan. Sehingga, makalah tidak melebar kesana kemari.
Dosen yang lain, ada yang tidak mengharuskan pendahuluan memakai sub bab.
Di bagian pembahasan, mahasiswa harus menjelaskan permasalahan yang di jadikan tema dalam makalah. Mereka tidak boleh memainkan otak seenaknya untuk mengupas pembahasan. Pisau analisis mereka tidak boleh sembarangan merobek pembahasan. Ada area-area khusus kapan pisau itu digunakan.
Ada rujukan-rujukan tertentu dalam membahas permasalahan. Teori-teori, konsep-konsep yang sudah ada dijiplak kembali. Kadang, (bahkan sering) teori dan konsep yang dijiplak tidak begitu berhubungan dengan tema makalah. Lumayan, teori dan konsep “ngawur” itu bisa memadati lembaran makalah. Akhirnya, makalah dengan sepuluh halaman bisa tercapai dengan teori dan konsep “ngawur” lima halaman. Satu halaman lagi untuk kata pengantar. Satu halaman untuk daftar isi. Satu halaman untuk daftar pustaka. Selebihnya, baru untuk tema yang berhubungan. Walau dipaksakan.
Analisis otak mahasiswa bisa di posisikan sebagai penjelas dari teori yang sudah ada, sebagai penambah, atau sebagai kritik. Tapi, yang terakhir sangat jarang. Apalagi teori yang di kritik miliknya dosen pemberi makalah. Kritikan bisa di balas oleh nilai jeblok.
Pernyataan rujukan harus haru di beri keterangan bahwa itu adalah rujukan. Satu dosen mengharuskan pernyataan rujukan di taruh setelah berakhirnya pernyataan. Aturan mainnya; penulis, tahun terbit lalu halaman. Ketiganya dimasukan ke dalam kurung. Jika bukan dari buku, tulis dari mana pernyataan itu, dimana dan kapan. Dosen lainnya mengharuskan akhir pernyataan rujukan memakai foot note atau catatan kaki. Tempelkan foot note berupa angka di akhir pernyataan. Keterangan rujukannya, satu dosen ada yang mengharuskan di tulis di halaman itu juga. Letaknya di bawah halaman itu. diatasnya garis pemisah antara rujukan dengan pembahasan makalah. Aturannya, tulis foot note yang berupa angka tadi. Jika tadi angka satu yang ditulis, maka angka satu harus ditulis kembali. Setelah itu, tulis sumbernya. Nama penulis. Jika namanya terdiri dari dua kata, maka ia harus dibalikkan. Kepanjangan di taruh di awal, nama depan di taruh sesudahnya. Diantara keduanya tulis tanda koma. Lalu, tulis tanda koma lagi. Lalu, tahun terbi. Lalu tanda koma lagi. Lalu, judul buku. Lalu, tanda koma. Lalu, kota tempat terbit. Lalu, tanda titik dua. Lalu, nama penerbit.Lalu, tanda koma. Lalu, tulis kata halaman. Bisa disingkat dengan hlm atau hal. Lalu, tanda titik dua. Lalu angka halaman.
Jika rujukan dipakai kembali di halaman itu juga, maka bagian keterangan foot note cukup di tulis kata ibid, lalu halaman. Jika di halaman lain, tulis nama penulis, lalu kata opcit lalu halaman.
Dosen lain ada yang mengharuska penulisan foot note di langsung kan di halaman lain setelah pembahasan beres.
Analisis, atau pemikiran mahasiswa, satu dosen menginginkan pemikiran dicantumkan setelah atau sesudah teori atau konsep orang lain. Dosen lainnya mengharuskan analisis mahasiswa ditaruh di bab khusus setelah bab pembahasan.
Di bagian penutup, satu dosen mengharuskan penutup di bagi menjadi kesimpulan dan saran. Dosen lainnya menghalalkan tanpa pembagian.
Untuk penulisan daftar pustaka hampir sama dengan penulisan foot note. Tapi, ada juga dosen yang tidak perhatian dengan penulisannya.
Kira-kira aturan-aturan seperti itu yang sampai di telingaku. Intinya, tugas-tugas itu akan membantu mahasiswa memperoleh nilai bagus. Telingaku juga menangkap misi penugasan makalah. Walaupun redaksi tiap dosen berbeda.
Niali-nilai yang akan menghiasi lembar kertas Kartu Hasil Studi (KHS) di peroleh dari tiga poin. Satu dari ujian akhir semester (UAS). Kira-kira perolehan nilai berkisar 40-50 persen. Poin kedua diperoleh dari ujian tengah semester (UTS). Kira-kira perolehan nilai berkisar 20-30 persen. Poin ketiga diperoleh dari tugas-tugas, seperti makalah. Kira-kira perolehan nilai berkisar 25 persen.
Kehilangan niali dari makalah akan berpengaruh pada nilai mata kuliahnya. Jika kurang baik, mahasiswa harus mengulang mata kuliah itu. Ungkapan muncul dari sini; “makalah bisa memperpanjang dan mempercepat usia mahasiswa di kampus”.
Mantra dosen cukup ampuh menghipnotisku. Makalah-pun aku kerjakan semaksimal mungkin. Terlihat, begitu juga dengan teman-teman. Mantra sang dosen ternyata berhasil menghipnotis satu kelas.
Teman-teman ada yang sampai kesurupan oleh mantranya. Kesurupan-kesurupan ini akhirnya mengarah pada kebohongan akademik dan kecurangan akademik. Ada yang menyalahgunakan kemudahan dunia internet. Di dunia ini, tema apapun bisa didapat oleh si pemakaiinya. Mereka tinggal mencari website yang berhubungan dengan tema, atau mencari di tempat pencarian di dunia ini. Tampilan pembahasan yang diinginkan akan muncul, dengan beragam pembahasan dan sudut pandang. Ada yang lengkap, banyak juga yang tidak.
Pembahasannya kemudian di blok, lalu di copy dan di paste. Kemudian di pindahkan ke plash disk. Pembahasan-pun masuk ke penampung yang sebesar ibu jari itu. Tinggal mengedit sesuai ketentuan dosen yang bersangkutan, lalu print out. Atau kalau boleh, lebih praktis lagi dikirim ke emailnya dosen.
Sangat sangat praktis. Makalah yang kadang–kadang menghabiskan waktu satu minggu dua minggu, bisa selesai beberapa jam atau beberapa menit. Tanpa harus kesana kemari cari buku. Tanpa harus capek-capek ngetik. Dan tanpa harus berfikir pusing. Kemudahan dunia internet ini di nyatakan oleh pepatah seorang teman: “ selama ada warnet (warung internet) makalah jangan dianggap pusing”.
Ketelitian dosen dalam memeriksa tugas perintahannya ini harus-lah ekstra hati-hati. Dosen jangan terbuai dengan cover, kata pengantar yang mengelu-elukan dia, tebalnya halaman, banyaknya referensi, atau terbuai dengan judul dan sub-subnya. Dosen harus teliti juga dengan isi pembahasan. Dan itu yang penting.
Hurup demi hurup yang menjadi kata. Kata demi kata yang menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat yang menjadi paragraf jangan luput dari ketelitiannya. Dosen jangan seenaknya hanya melihat kalimat atau paragraph yang penting saja. Dia harus meneliti semuanya. Satu kata, bahkan satu huruf bisa mengungkap sebuah kebenaran. Dan sebaliknya dia juga bisa memunculkan sebuah kesalahan.
Selain internet, keberadaan penjualan makalah cukup membantu mereka yang tidak mau ambil pusing dengan tugas makalah. Apalagi tidak susah menemukan penjualan-penjualan makalah di kota ini. Bahkan tidak hanya makalah. Skripsi, tesis, proposal, kliping, semuanya ada disini.
Untuk yang satu ini memang tidak se-praktis internet. Rata-rata dengan ukuran lima sampai tujuh halaman bernilai Rp.5000-an sampai Rp.7500-an. Tergantung bobot makalahnya juga. Makalah ini tidak bisa langsung di kumpulkan ke dosen. Covernya belum diganti dengan nama kita, dosen kita, jurusan dan kampus kita beserta tahunnya.. Maklahnya sudah kusut, dan biasanya di bagian depan terlihat tanda tangan dan nilai bahwa makalah ini sudah diperiksa, atau tanda dari si loper makalah. Si pembeli harus scan makalahnya dulu, kemudian baru di print out.
Entah dari mana para penjual mendapatkan makalah dengan mata kuliah yang sama dalam satu jurusan. Kalau mahasiswanya sedikit kemungkinan. Karena, setiap tugas makalah dikumpul semua ke dosen dan tidak di kembalikan lagi. Mungkinkah keberadaannya apa yang dikatakan temanku: “buat apa kita pusing-pusing memikirkan makalah? Paling, dosen memeriksa makalah puluhan mahasiswanya hanya sekilas saja. Setelah itu, buat apa dia memelihara makalah kita? Ya di buanglah!!! Entah ke tukang rongsokan! Entah ke tukang gorengan! Entak ke loakan makalah itu! Bisa saja-kan?”.
Kriminalitas di dunia pendidikan terlihat begitu halus dan tidak sekasar pembunuhan, pencurian, atau pemerkosaan. Padahal kriminalitas tetaplah keji. Apalagi objeknya adalah ilmu dan pelakunya adalah orang-orang yang katanya terdidik atau terpelajar. Akankah ilmu yang suci, yang seharusnya mengarahkan umat manusia ke jalan yang lurus dikotori begitu saja?.
Tugas-tugas makalah yang mengganti waktu-waktu istirahat di malam-malam di bulan itu. Termasuk dimalam yang paginya aku di bangunkan oleh nada yang keluar dari speaker handphone itu.
Seandainya nada yang terdengar adalah nada alarm yang biasa aku setting di pagi hari, pasti akan aku matikan lagi. Dan tidur lagi.
Tapi, mendengar nadanya, telingaku sudah sangat akrab. Ya, nada itu adalah nada yang keluar jika orang tuaku calling ke Hp ini.
Posisiku masih terbaring ngantuk. Hp yang terus berbunyi dan bergetar aku ambil. Lalu, aku tekan tombol yang memanjang kesamping diatas tombol-tombol lainnya. Bunyi nada dan getarnya berhenti.
“Assalamualaikum!” sapa ayah terdengar jelas keluar dari speaker handphone.

“Waalaikumussalam” suara bangun tidurku sudah hilang setelah posisi berbaring diganti dengan duduk dan bersandar ke tembok ruangan.

“Nak, bagaimana kabarmu?”

“Alhamdulillah baik yah! Ayah ibu dan adik-adik dirumah bagaimana?”aku balik tanya kabar di rumah.

“Syukur kalau kamu baik-baik saja. Ayah, ibu dan adik-adikmu juga alhamdulilah baik. Begitu-pun dengan si Yuyun. Ibumu kemarin nengok dia ke asramanya. Alhamdulillah katanya dia baik-baik saja. Bahkan sekarang dia sedang ada tugas magang dari sekolahnya”. Suara ayah masih terdengar jelas dengan nada yang datar.

“Nak, ada informasi yang harus ayah ketahui dari kampus tidak?” ayah selalu ingin tahu aktivitas di kampus, walaupun dia tidak tahu dan belum pernah menginjakkan kaki di kampusku.

“Yaa ujian akhir akan dilaksanakan pertengahan bulan depan. Dan sekarang sudah banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan menjelang ujian ini. Heregistrasinya setelah ujian itu”. Kalaupun waktu heregistrasi masih jauh, aku informasikan kepada ayah. Karena info itu yang biasanya dianggap penting.

“ Begini nak!” Suara ayah lamban.

“Iya yah” tanggapku cepat.

“Masalah perpindahan terminal itu dengar-dengar resmi pindah bulan depan. Setelah terminal pindah, ayah belum tentu bisa langsung bekerja lagi. Karena tidak otomatis MCK yang di kelola oleh ayah bisa mendapat tempat lagi di terminal baru.” Ayah terdiam sejenak.

“Iya iya yah” Responku pendek.

“Tapi ingat nak! Ini hanya pemberitahuan saja sama kamu. Jangan sampai gara-gara kabar ini belajar kamu terganggu, apalagi kalau mau ujian.”

“Iya iya yah! Mudah-mudahan belajar saya tetap rajin, giat yah! Justru sebaliknya yah mudah-mudahan saja info ini jadi memotivasi untuk belajar lebih baik lagi. Minta doanya saja dari ayah, apalagi menjelang ujian.” Responku sedikit menyemangati ayah.

“Syukur nak kalau kamu punya pikiran seperti itu. Iya, ayah selalu doain kamu.”
Aku dan ayah terdiam sejenak.

“Ya sudah nak! Hanya itu saja. Salamualaikum!” ayah pamit.
“Walaikumsalam”

Berita kepindahan terminal bukanlah berita yang pertama kalinya aku dengar dari ayah. Ayah pernah memperbincangkan masalah itu ketika aku pulang ke rumah tujuh bulan yang lalu.

Terminal memiliki arti penting bagi ayah untuh menafkahi keluarganya. Di sudut terminal itulah Wc umum tempat ayah bekerja berdiri.

Pemiliknya adalah pamana ayah sendiri. Tapi, ayah tidak bisa seenaknya saja bekerja atau meminta upah yang tinggi. Ia tetap harus mematuhi peraturan dari paman sesuai kesepakatan. Status ayah sebagai seorang keponakan tidak bisa mendobrak aturan paman sebagai seorang atasan.

Ini di buktikan oleh ayah. Ayah hanya bekerja enam bulan dalam satu tahun. Peraturannya; bulan ini ayah kerja, bulan depannya digantikan oleh pekerja lain yang juga karyawan paman ayah.

Aku tidak terlalu kaget mendengar berita kali ini. Kabar kali ini hanya penguat dari perbincangan kami di rumah jauh-jauh sebelumnya. Apalagi perbincangannya kami langsungkan melalui perantara handphone.

Berbincang di rumah aku bisa melihat raut muka ayah, mimik ayah, gerakan ayah bahkan emosi ayah ketika menyampaikan masalah kepadaku. Tentunya ini akan mempengaruhi respon aku dalam menanggapinya.

Percakapan lewat handphone hanya bisa mendengar suara ayah dengan berbagai nada saja. Tidak ada raut muka, mimic, gerakan atau emosi ayah.

Berbicara lewat handphone tidak bisa leluasa. Disbanding ketika kita berbicara langsung. Aku harus melihat isi pulsa yang ada di dalam Hp. Tidak cukup hanya pulsa, aku harus melihat kapan aku harus menelepon. Biasanya aku atau ayah ngobrol lewat Hp di waktu subuh.

Khusus untuk kartuku dan kartu ayah ada tarip khusus di waktu ini. Satu menit ngobrol di waktu ini sama dengan ongkos kirim satu pesan singkat. Padahal jika ngobrol di selain waktu itu pulsa yang di habiskan bisa sepuluh kali lipatnya. Apalagi kalau interlokal atau luar negeri.. biasanya lebih.

Keterbatasan ngobrol lewat Hp kadang datang ketika berlangsung percakapan. Suara tidak jelas, baterai lemah, sinyal lemah ada kontak lain yang masuk atau pulsanya mendadak habis.

Setelah selesai, kutaruh Hp dilemari bagian atas. Lemari itu disediakan ibu kosku. Tingginya kira-kira satu meter setengah. Lebarnya setengah meter. Ukuran tinggi itu di bagi tiga bagian dengan ukuran masing-masing lima puluh centi meteran.

Di bagian atas, aku jadikan tempat untuk celana dan baju serta beberapa dokumen penting seperti ijazah. Di bagian tengah aku jadikan untuk tempat buku. Begitu-pun di bagian bawahnya.

Setiap bagian memiliki pintu masing-masing. Hanya bagian atas yang memiliki kunci.

“Siapa Kim?” Abas tiba-tiba mengagetkanku. Sepertinya dia terbangun oleh perbincangan tadi.
Abas adalah temanku sekos. Temanku satu kelas. Dan temenku satu etnis.

Kos berdua menjadi alternative ditengah-tengah harga kos yang tidak bisa kompromi dengan kondisi keuanganku.

Rata-rata harga kos di daerah ini sekitar 100 sampai150 ribu per bulannya. Harga itu belum ditambah harga listrik. Minimal 10 ribu. Itu kalau isi kos kosong dari benda-benda yang membutuhkan daya listrik. Kalau ada computer, atau TV, atau rice cooker, harga listrik di tambah 20 ribu sampai ada yang 50 ribu. Ada juga satu bulan harganya sampai tiga ratus ribu, dengan kamar mandi dalam dan berkeramik serta sudah termasuk biaya listrik.

Kalau untuk pertahun rata-rata satu setengah juta belum biaya untuk listriknya. Ada juga harganya sejumlah itu sudah termasuk listriknya. Ada juga yang hanya satu juta pertahun. Tapi itu belum termasuk listrik. Dan lantai kos biasanya bukan dari keramik. Hanya dari tembok biasa. Harga kos disini tergantung bagaimana kondisinya.

“Ayahku” jawabku singkat.

“Ada apa pagi-pagi begini sudah telepon-teleponan?” Tanya Abas penasaran. Dia masih tetap berbaring di kasur yang disediakan ibu kos.

“Biasa…tanya-tanya kabar” Jawabku lumayan kaget. Aku takut dia dengar perbincanganku tadi.

“Oooh aku kira berita kiriman uang!!” Perkiraan Abas sambil tersenyum.

“Sudah ah! Aku mandi dulu! Kamu mandi enggak? Sekarangkan ada kuliah pagi?” aku berjalan menuju pintu untuk mengambil handuk yang di gantung disana.
“Ya iya-lah aku pasti mandi” Jawab Abas yang terlihat bangun dari kasur.

Kamar mandi di lokasi kosku hanya tersedia dua kamar. Sebelum sampai di kamar mandi pertama, aku harus melewati kamar si Tri yang ada di samping kamarku. Dia mahasiswa teknik industri di kampusku. Selain aku, si Tri dan si Abas, dua kamar mandi itu dipakai juga oleh mas Toha, mbak Yuni serta anaknya Dafa yang masih berusia satu setengah tahun. Kamar mereka terhalang oleh satu kamar kosong yang ada di samping kanan kamarku.

Pagi jam setengah delapan aku punya jadwal untuk kuliah. Begitu pula dengan si Abas.

Untuk sampai di kampus, aku dan Abas harus berjalan selama sepuluh sampai lima belas menitan. Kampusku yang disini sifatnya masih sementara, karena untuk tempat aslinya masih dalam proses pembangunan. Bangunan yang sekarang di pakai untuk kuliah adalah gedung training centre atau gedung-gedung pertemuan.

Obrolan aku dan Abas menjadi kendaraan tersendiri untuk menuju kampus. Kadang obrolan tentang kuliah, obrolan tentang masa depan, obrolan tentang kelaki-lakian, obrolan tentang cinta, atau obrolan tentang cerita cinta orang lain.

Keringat bercucuran setalah sampai di kampus. Dari kening, dari leher, dari tubuh bagian belakang, bahkan dari pergelangan tangan.

Rasa capek akibat berjalan sebisa mungkin aku tahan agar tetap konsentrasi dalam perkuliahan.

Tapi, suasana pagi itu tidak membuat konsentarasiku fokus ke perkuliahan. Dua SKS (Sistem Kredit Semester) dengan waktu 45 menit per sks terasa begitu lama.

Proses perkuliahan pagi itu bejalan sangat monolog. Dari mulai proses belajar, hanya suara dosenlah yang menghiasi ruangan perkuliahan. Kalaulah ada suara mahasiswa, itu hanyalah suara-suara penghilang rasa jenuh akibat proses perkuliahan yang menjemukan. Akibat gaya belajar sang dosen.

Ada mahasiswa yang saling berbisik antara yang satu dengan yang lain. Mereka tidak peduli dengan dosen yang sedang memberikan “ceramah” di hadapan mereka. Ada yang tulis-tulisan. Ada yang gambar-gambaran. Ada juga yang sms-an dan main game di Hp-nya. Bahkan ada juga yang terlihat bengong kosong.

Satu jam perkuliahan sudah berlalu. Sang dosen tetap dengan gayanya dari awal. Ceramah dengan lontang lantung ke kiri dan ke kanan kemudian duduk ke kursinya. Begitu terus dari pertama masuk.

Laptop yang diletakkan di atas meja di kotak-katik olehnya. Tampilan di depan yang disorot oleh Lcd-pun ikut berganti. Pembahasan sebelumnya dianggap selesai, dan berganti ke pembahasan selanjutnya. Sang dosen tidak mempertanyakan pembahasan tadi kepada mahasiswanya. Apakah mahasiswanya sudah mengerti, sudah paham? Atau mungkin memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memberi tanggapan, sanggahan atau kritikan terhadap penjelasan dosen. Sang dosen sepertinya tidak peduli akan hal itu. Dia terus melanjutkan ke pembahasan yang ada di layer sorotan Lcd.

Mahasiswa kembali menjadi wadah penampung ceramahnya. Mereka tidak di beri kesempatan untuk menyaringnya. Aku dan teman-teman lainnya seperti objek di ruang perkuliahan itu. Padahal aku dan teman-teman datang kesana dengan tujuan mencari ilmu.

Gerakan tangan sang dosen ikut berpatisipasi juga dalam proses perkuliahan. Kadang tangannya bergerak ke kiri, kadang bergerak ke kanan, kadang keatas, kadang ke bawah. Kadang ia hanya mengangkat jari telunjuk dengan jari tengah ketikan ia mengatakan dua.ia juga menggerakan telapak tangannya dari kanan ke kiri atau sebaliknya, ketika ia mengatakan tidak.

Mata sang dosen diarahkan ke tampilan Lcd yang ada di depan. Setelah pembahasan terhenti sejenak. Scenario kembali berjalan, setelah setelah dosen menatap pembahasan yang ada di tampilan Lcd itu.

Pikiranku mengandai-andai prilaku dosen yang baru aku lihat.

“bagaimana jadinya jika dia ngajar tanpa laptop? Atau laptopnya mendadak eror? Atau listriknya mendadak mati?

“Ah… sudahlah lamunan ini hanya akan mengantarkan image bodoh kepada dosen. Tidak mungkin dia jadi dosen kalau dia bodoh!” Aku berusaha menghentikan lamunan dengan mengetuk bibir oleh jari telunjuk kananku.

“Tapi…tapi…” Pikirku kembali meraba-raba.

“Bisa saja begitu. Wong cara dia ngajar juga seperti itu. Penjelasan dia adalah Foto copy dari tampilan Lcd yang berasal dari laptopnya. Jangan-jangan dia tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk bertanya atau berkomentar karena tidak bisa menjawabnya?” Pikirku kembali mencap jelek dosen itu.

“Dia diangkat jadi dosen karena dia bisa. Tidak mungkin dia diangkat kalau dia bodoh. Apalagi seleksi jadi dosen katanya susah!” Pikirku mempertahankan reputasi sang dosen.

“Tapi…itu bisa saja. Ya, bisa saja dia melakukan KKN (Korupsi Kolusi atau Nepotisme). KKN-kan tidak hanya terjadi di panggung kekuasaan! Di dunia pendidikan fenomena ini juga cukup banyak. Hanya saja dunia pendidikan kalah dalam publikasinya. Padahal resikonya cukup berat juga. Orang bodoh akan dianggap orang yang mengerti dan berpendidikan. Bahkan yang lebih aku khawatirkan lagi bagaimana jadinya kalau penjelasan dia memeberikan jalan gelap?”.

Pernah, di minggu sebelumnya dia menjelaskan sebuah peristiwa yang menurutnya terjadi di tahun 1970-an. Erwin yang waktu itu duduk disebelah kananku mereduksi perkataan sang dosen. Menurutnya, peristiwa itu terjadi ditahun 1980. Perkataan dia bersumber dari sebuah buku yang jarang di negeri ini. Mendengar reduksi dari Erwin, sang dosen agak geram.

“Eh mas! Aku ini dosen dan kamu mahasiswa. Aku ini pengajar yang memberi tahu kamu. Kamu seharusnya yang menyerap perkataanku.”

Erwin hanya bisa terdiam. Setelah lama terdiam, dia memperlihatkan sebuah buku yang disebut-sebut ketika dia mereduksi dosen. Ternyata benar, dihalaman awal-awal buku itu, peristiwa itu memang terjadi tahu 1980.

“Waktu itu sang dosen mungkin lupa” Pikirku kembali berusaha membela sang dozen.

“Tapi…kenapa dia tidak mau menerima atau mendiskusiakan reduksi dari temanku? Dia malah memaki Erwin?” Pikirku kembali membantah pikiran sebelumnya.

“Ah… sudahlah! aku-kan sedang belajar.” Aku berusaha memfokuskan pikiran untuk mata kuliah yang sedang disampaikan dosen.

Sang dosen tiba-tiba menghentikan pembahasannya, sebelum pikiranku fokusnya. Dia mendadak menghentikan omongannya. Tatapan matanya tertuju pada satu arah. Aku dan teman-teman mengikuti tatapannya.

Tatapan tajam itu ternyata tertuju pada Fatul. Dia duduk di pojok ruangan yang sedang seriues dengan obrolan di teleponnya. Spontan Fatul terlihat heran dengan suasana yang begitu hening. Suara obrolan dengan teleponya menjadi terdengar, padahal nadanya sangat rendah. Matanya melirik ke sekeliling ruangan dengan posisi badan yang tertunduk ke kursi kuliah. Kelihatannya dia tambah heran ketika teman-teman yang lain menatap dia dengan raut muka yang cemas. Sepertinya dengan terpaksa dia menghentikan percakapanya.

“Bu! Sudah dulu ya! Setengah jam lagi Fatul telepon.” Suara Fatul terdengar gugup dan sangat rendah. Aku yang duduk tiga kursi kesamping kanan dari dia, kurang jelas mendengar suaranya.

Sang dosen masih tetap dengan tatapannya yang tajam. Tidak lama kemudian, dia angkat bicara.

“Hai mas…! Lain kali kalau ada telepon di luar saja. Atau lebih baik lagi kalau di nonaktifkan.” Suara sang dosen diarahkan ke Fatul. Volumenya biasa saja, tapi nadanya terdengar sinis dan marah.

Fatul hanya terdiam. Matanya tertunduk. Kulit mukanya berubah merah.

“Gara-gara Hp itu, konsentrasimu, konsentrasi teman-temanmu semuanya terganggu. Tidak hanya itu, proses belajar-pun ikut terganggu. Lihat saja sekarang, waktu belajar tersita gara-gara urusan sepele seperti ini.” Sang dosen merasa kesal dengan perilaku Fatul.

“Ya sudah sekarang kita kembali ke mata kuliah!” sang dosen kembali meneruskan penjelasannya.

Belum sampai sepuluh menit sang dosen menjelaskan mata kuliah, aku dan teman-teman di kagetkan oleh suara Hp yang berdering keras.

“Wah! Tamatlah riwayat orang yang bawa Hp ini. Pak dosen bukan marah lagi, dia pasti mengutuknya.” Pikirku mengkhawatirkan orang yang bawa Hp.

Tapi, pikirku berrubah lega, setelah Hp yang berbunyi itu dikeluarkan dari saku baju sang dosen.

“Hallo…!!” Suara sang dosen terdengar jelas membuka Hp yang berbunyi cukup keras.

“ Oh kamu ti!” sang dosen berjalan menuju sudut kanan ruang perkuliahan. Dia mengarahkan pandangannya ke luar lewat jendela kaca.

“ Ya…ya…sekarang saya lagi di kampus. Paling sebentar lagi keluar kok !. tunggu saja di tempat biasa ya ! “. Senyum manis terpancar dari wajah sang dosen.

“ Oke ! see you “ sang dosen menutup HP nya .

Ia kembali berjalan menuju tampilan layar yang disorot LCD.

“ Oke semuanya ! tugas buat minggu besok bikin makalah minimal 20 halaman. Batas minimal referensinya sebanyak empat buku “. Dengan tiba-tiba sang dosen langsung memberikan tugas kepada kami. Padahal, materi yang tampil di layer LCD belum habis di bahas, apalagi di diskusikan dengan kami.

“ inagat! Tugas makalah ini akan membantu nilai kalian di akhir semester “.

Nilai, nilai dan nilai. Kembali menjadi iming-iming bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas yang di berikan olehnya. Apalagi, menurut dia nilai kali ini akan mempengaruhi lulus tidaknya mahasiswa dalam mata kuliah yang di ampunya.

“oke !untuk hari ini hanya itu saja. Selmat siang! Assalamua’laikum “ secara tiba-tiba sang dosen menutup perkuliahan. Padahal, waktu masih tersisa 15 menit lagi. Dia tiak memberi tahu kenapa dia menutup perkuliahan dengan waktu yang masih tersisa. Termasuk untuk meminta maaf kepada mahasiswa atas kepergiannya yang mendadak.

Aku sempat berfikir bagaimana jadinya kalau setiap kali sedang” mengajar” sang dosen mendapat ajakan dan dia memenuhi ajakan itu. Bayangkan jika dalam setiap pertemuan dosen meninggalkan proses perkuliahan 15 menit sebelum waktunya, maka dalam satu semester yang tediri dari 12 kali pertemuan itu dia sudah meninggalkan kewajibannya selama 180 menit. Maka, jika satu sks seharusnya berlangsung selama 45 menit, berarti dia telah meninggalkan kewajibannya untuk empat sks.

Biasanya
Ah… tidak bagaimana, karena belajar bisa dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Di rumah, di kos, di warung, di jalan, poses belajar bisa trjadi. Pagi, siang,sore, malam, waktu belajar bisa terjadi.dengan orang-orang yang usianya siatasa kita, dengan usia yang dibawah kita, dengan petani, dengan pedagang, dengan pengamen, dengan pemulung, ilmu bisa kita peroleh dari mereka.
Tanpa dosen, belajar tetap bisa berlangsung.dan tidak menutup kemungkinan lebih baik tanpa dia. Tidak merasa tertekan, tidak merasa diawasi, sehingga bisa menyerap materi dengan mudah.

Tapi, yang “bagaimana” adalah kewajiban dosen sebagai penyampai materi. Bagaimana jika kewajiban itu ditinggalkan tanpa sebab yang di tinggalkan. Atau dia tidak melaksanakannya sesuai aturan. Atau dia melaksanakan kewajiban itu seenaknya. Bagaimana dengan semua itu?. Aku melihat selama ini belum ada sanksi yang membuat jera “pelanggar-pelanggar akademik” semacam itu. Dari kampusnya atau dari pusat.

Beda sekali dengan kami sebagai mahasiswa. Kami akan mendapatkan sanksi jika tidak masuk kuliah. Empat kali pertemuan tidak masuk atau kurang dari 75% kami tidak bisa mengikuti ujian akhir. Jika tidak mengikuti ujian akhir, sudah bisa di pastikan mahasiswa yang bersangkutan nilainya akan jeblok, mengingat 50% nilai di peroleh dari sini. Artinya mahasiswa tidak akan lulus mata kuliah ini. Jika tidak lulus, mahasiswa harus mengulangnya di semester yang akan datang. Usia kuliah di perpanjang. Uang-pun harus kembali keluar untuk mata kuliah itu.

Aku dan mungkin sebagian teman-teman mahasiswa lainnya cukup di buat jera dengan aturan itu. Aku dan teman-teman cukup ketakutan jika tidak masuk kuliah. Beberapa strategi dipakai untuk mengakali aturan ini. Ada yang nitip tanda tangan ke teman yang masuk kuliah. Titipan tanda tangan ini membuat mahasiswa yang tidak hadir menjadi hadir. Strategi ini bisa di jalankan jika dosen tidak memanggil satu persatu mahasiswanya dalam proses pengabsenan. Dosen hanya menyerahkan absensi ke mahasiswa. Kemudian, mahasiswa secara bergilir menandatangani absensi itu.

Proses penandatanganan ini sering kali mengganggu efektivitas belajar dalam proses perkuliahan. Konsentrasi belajar puyar ketika absensi berjalan saling berebutan. Kebanyakan absensi seperti ini yang sering dipakai. Jarang dosen melakukan absent dengan memanggil mahasiswanya. Padahal cara seperti ini bisa mengantisifasi “penipuan-penipuan akademik” tadi, proses belajar tidak akan terganggu, dan setidaknya dosen bisa mengenali muka dan nama mahasiswanya, walaupun di pertemuan selanjutnya dia lupa lagi “siapa si A itu? Yang mana si A itu?”
Ya, selama ini aku merasakan banyak dosen yang tidak mengenali mahasiswanya. Entah karena dia terlalu banyak mahsiswanya, atau karena dia terlalu sibuk atau entahlah Akibatnya komunikasi diantara kedua warga perguruan tinggi ini kurang berjalan dengan baik. Proses komunikasi lebih banyak terjadi diruang perkuliahan, ketika jam kuliah sedang berlangsung. Disni komunikasi lebih banyak berjalan satu arah. Dosen menjelaskan materi, mahsiswanya mendengarkan. Kalaupun terjadi, itu hanya sebatas komunikasi dialogis, yang berlaku bagi mahasiswa yang mempertanyakan penjelasan dosen. Dan yang nanya orangnya yang itu-itu terus, sehingga dosenpun lebih mengenal orang yang banyak bertanya kepadanya, ya setidaknya dosen itu kenal muka.

Padahal, komunikasi yang baik dan intens akan melahirkan keakraban di antara dua pelaku pendidikan ini. Dan, keakraban pengaruhnyapun cukup berarti bagi keduanya. Kadang, ada mahasiswa yang tidak masuk kuliah karena kurang srek sama dosennya. Kalupun dia masuk, itu dengan penuh paksaan absensi/nilai. Akhirnya, dia secara fisik ada diruang kuliah, tapi pikiran dan fokusnya ada diluar.

Ada yang sebaliknya. Mahasiswanya tidak senang dengan mata kuliahnya. Tapi, karena dosennya akrab dengan dia, dia akhirnya masuk. Seandainya dia tidak masuk, dia merasa malu sendiri.

Ya. Akrab dengan sesama pencari ilmu itu dilakukakan. Dosen dan mahasiswa hanyalah sebutan, bukan dijadikan sesuatu yang menghalangi untuk menuju keakraban. Dan keakraban itu tidak akan tercapai jika tidak menjalin komunikasi dengan baik dan intens.

*****
Ada banyak waktu yang tersisa ketika aku harus hidup hanya untuk ruang perkuliahan. Dari semester satu sampai tiga aku ambil 9 mata kuliah dengan bobot 24 sks. Satu sks menghabiskan waktu sekitar 45 menit diruang kuliah.
Bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.