Berkurangnya Sikap Rasa Ingin Tau Mahasiswa


Tepat di tanggal 1 mei 2014, saya ingin menulis tulisan kecil mengenai sikap para mahasiswa saat ini. Berbagai macam konflik dunia pendidikan belakangan ini muncul, mulai dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh staff JIS (link) , kasus kekerasan dan kesenioritasan dunia kampus dan kasus yang lain yang belum terekspos menunjukkan bahwa negeri ini sepertinya mengalami pemerosotan moral. Guru yang seharusnya menjadi panutan para siswanya, menjadi pelindung, menjadi orang tua di sekolah justru menjadi penjahat kelamin yang tega merusak kejiwaan anak-anak dibawah umur, masya allah. Apakah ini adalah bukti kegagalan moral akibat kemajuan teknologi? akses internet dimana-mana ada, aksi pornoaksi juga tidak susah ditemukan melalui internet, inikah yang dinamakan keterburukan mental? Entahlah.

Kasus yang tak kalah menarik ditemukan di beberapa universitas yang dulunya berstatus “kedinasan” alias lulus langsung kerja dan bisa diangkat PNS, ternyata didapati melakukan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para senior kampus. Sepertinya ini adalah tradisi yang sudah turun temurun yang terjadi di beberapa kampus itu. Ospek yang sejatinya diisi kegiatan yang lebih mendidik justru berisi kegiatan yang tidak bermanfaat sama sekali seperti melakukan kekerasan. Ada apa sebenarnya? Apakah budaya kekerasan memang wajib dilakukan di institusi pendidikan ini? Mari bersama-sama menghilangkan kekerasan dengan peningkatan kualitas untuk indonesia yang lebih baik.

Dari sedikit tulisan tersebut, inti utama yang ingin saya bahas adalah berkurangnya sikap rasa ingin tahu mahasiswa. Sebagai seorang asisten, tentunya saya harus bisa mengatur, menjelaskan dan memudahkan mahasiswa ketika proses belajar mengajar di kelas. Namun, terlalu susah bagi saya untuk membangkitkan hal tersebut. Rasanya saya adalah individu yang gagal dalam bidang kependidikan, bagaimana tidak gagal, setiap kali saya masuk kelas, para mahasiswa pun hanya diam saja mulai dari awal saya masuk sampai kuliah diakhiri, tidak sedikitpun para mahasiswa yang memiliki antusias.

Dari hal tersebut, saya melakukan introspeksi diri, mungkin kesalahan saya ada di beberapa hal berikut:

  • Kurang komunikatif. Secara emosional, kedekatan saya dengan mahasiswa boleh dibilang “renggang”, bukan berarti saya tidak terbuka dengan para mahasiswa ya 😀 . Oleh karena saya tidak begitu akrab, mungkin hal tersebutlah yang membuat para mahasiswa enggan merespon ketika saya menjelaskan di kelas.
  • Kurang humoris. Pribadi saya mungkin bisa dibilang orang yang serius, jarang bikin humoris, terlalu fokus menjelaskan sesuatu, yang imbasnya kelas jadi horror, mahasiswa rasanya ingin cepat diakhiri saja ketika perkuliahan kelas saya. Nah, ini yang sedang saya pelajari, bagaimana menciptakan kondisi belajar yang nyaman di kelas, santai tapi serius.
  • Jarang masuk. Respon dari mahasiswa mengatakan bahwa saya sering jarang masuk. Ya, benar sekali, memang saya akui kesalahan fatal ini adalah kesalahan saya pribadi yang disebabkan karena saya masih mempunyai beban kuliah di kota gudeg. Jarak tempat bekerja dengan tempat kuliah yang jauh membuat saya harus merelakan untuk meninggalkan para mahasiswa, sehingga hanya tugaslah yang dapat menemani mahasiswa.
  • Gak ganteng. Ya, mahasiswa rupanya sukanya kepada yang ganteng, bersih dan putih. Solusinya gimana ya? dari saya pribadi gak ada solusi karena saya bawaan dari lahir memang tidak ganteng.
  • Suara pelan. Intonasi suara ketika di kelas sebenarnya bagi saya tidak terlalu keras, bagi saya pribadi, suara saya adalah standar seperti pada umumnya.
  • Kurang tegas. Nah disini, yang dimaksud tegas ada beberapa faktor. Mungkin tegas yang dimaksud adalah keras terhadap mahasiswa? kalau memang seperti itu, rasanya di zaman sekarang sudah tidak perlu lagi hal tersebut. Saya yakin mental mahasiswa adalah mental pejuang. Pejuang sudah pasti selalu berjuang dalam meraih ilmu, baik di bangku perkuliahan maupun di luar perkuliahan.

Marilah saya mengajak kepada para mahasiswa agar selalu berdiskusi dengan para pengajar di kelas, supaya suasana belajar di kelas selalu menarik. Tinggalkan sikap yang selalu “manut” menjadi sikap yang kritis, sikap yang memiliki keingintauan tinggi, agar suatu saat ilmu dari para mahasiswa dapat berguna.

Akhir kata, semangat hari buruh, semangat hari pendidikan. Insya allah penduduk indonesia adalah penduduk yang cerdas, tinggal bagaimana kita membiasakan waktu setiap hari untuk selalu menuntut ilmu, belajar dan belajar. Belajar tidak harus dari bangku perkuliahan, namun apabila mampu, silakan kuliah karena belajar di bangku perkuliahan akan lebih terstruktur dibandingkan belajar otodidak.

Salam, Triawan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.