Cerdas atau Ceroboh?


Seringkali kita berbicara sesuatu dengan spontan, baik itu ketika diskusi dengan teman, menjawab pertanyaan, atau memisalkan suatu uangkapan sebagai permisalan. Yang bahkan karena cepat dan spontannya kita menjawab, orang terkagum-kagum pada kita, lantas pujian cerdas pun mengalir ditujukan pada kita.

Salahkah menjawab dengan spontan? Tentu tidak, jika kita yakin dan jawaban kita berdasar hal yang ilmiyah dan berdalil. Namun, tidak jarang juga bisikan syaitan itu muncul dengan cara yang halus, membuat niat kita bergeser dan kehati-hatian mulai luntur, sehingga harapan serta niat agar dipuji pun muncul.
Di banyak kesempatan bisa jadi kita berpikir pintas, spontan dan bertindak ceroboh. Akibatnya, penyesalan menghantui dikemudian hari.

Imam Al Hasan Al Bashri mengisahkan:

كَانُوا يَقُولُونَ إِنَّ لِسَانَ الْحَكِيمِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُولَ رَجَعَ إِلَى قَلْبِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ . وَإِنَّ الْجَاهِلَ قَلْبُهُ عَلَى طَرْفِ لِسَانِهِ ، لَا يَرْجِعُ إِلَى قَلْبِهِ ، مَا أَتَى عَلَى لِسَانِهِ تَكَلَّمَ.

“Dahulu orang orang bijak/ cerdas/ulama berkata: sesungguhnya lisan orang bijak selalu diposisikan di belakang akalnya, sehingga setiap hendak berkata sesuatu, terlebih dahulu ia memikirkannya. Bila ia merasa ucapan itu bermanfaat baginya maka ia mengucapkannya, namun bila ia anggap dapat merugikannya, maka ia menahan dirinya. Sedangkan orang pandir, akal pikirannya seakan berada di ujung lisannya. Sehingga ia tidak pernah memikirkan ucapannya (ceroboh), apapun yang ingin ia ucapkan, maka spontan ia ucapkan”

Lihatlah!!!
Orang bijak atau orang cerdas tidak serta merta mudah berbicara ceplas-ceplos, mereka bahkan menundukkan lisan dan kecerdasannya dibalik dalil dan akal. Tidak ceroboh.

Dan diantara ucapan ceroboh ialah perkataan: permisalan orang ikhlas seperti orang yang meludah, tidak dipikirkan lagi setelahnya. Atau seperti orang yang buang hajat, tidak pernah merasa kehilangan setelah membuangnya.
Sekilas permisalan ini baik dan tampak “cerdas”, namun jika dipikirkan baik baik ini adalah gambaran tercela dan kotor yang tidak pantas dilakukan oleh orang beriman.
Ludah dan kotoran yang kita buang  itu adalah sampah yang kita sendiri akan terganggu dengan keduanya sehingga kitapun rela membuangnya, sesuatu yang kotor, hina, dan tak ada pahalanya jika kita menyimpannya.
Sedangkan ibadah, infaq, dan sedekah bukanlah sampah yang kita berikan atau kita buang, namun harta yang paling bagus atau minimal bagus dan mayoritas kita menyukainya.

Harta yang kita cintailah yang seharusnya kita infaqkan dan sedekahkan. Andai bukan karena mengharap balasan dari Allah Taala niscaya kita tidak akan sudi memberikannya, bahkan sangat senang menyimpannya.
Inilah permisalan sedekah yang kita salurkan dengan ikhlas.

sumber : tausyiah bimbingan islam (grup telegram)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.