Cerita Mudik 1442 H


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama-tama, saya beserta keluarga mengucapkan

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H

Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya.

Syukur alhamdulilah pada bulan syawal kali ini, saya sekeluarga masih diberikan kesehatan sehingga dapat berjumpa kembali dengan keluarga, saudara, dan sahabat. Walaupun situasi saat ini masih memasuki masa pandemi covid-19, namun tidak membuat semangat saya untuk bersilaturahim dengan siapapun menjadi penghalang.

Hari ini, Selasa 18 Maret 2021, saya memberanikan diri untuk “mudik” di saat mudik dilarang oleh pemerintah karena khawatir problematika covid-19 makin berkepanjangan. Tindakan saya ini bukan berarti saya menentang kebijakan pemerintah untuk tidak mudik, namun pada tanggal 18 mei 2021 sekarang ini adalah masa dimana transportasi umum dibuka. Kondisi jalanan Jawa Timur – Jawa Tengah pun masih lengang dan sepi. Peraturan terkait penyekatan di perbatasan wilayah (antar kabupaten bahkan mungkin antar propinsi) masih berjalan. Info lalu lintas dapat melihat di lini massa twitter seperti @RadioElshinta, @senkompaspro, @perhubunganjtg, dan masih banyak yang lainnya.

Alhasil, saya yang rencananya “mudik” menggunakan kendaraan pribadi, akhirnya memutuskan untuk menggunakan kereta api dikarenakan masih ada pemeriksaan kendaraan di salah satu tempat di Klakah Jawa Timur. Tidak sedikit pula, kendaraan pribadi yang mencoba melewati jalur yang tidak ada proses pemeriksaan petugas, yaitu dengan melewati jalur “tikus” atau ada juga yang melewatinya ketika jam istirahat petugas jaga. Apapun alasannya, tentunya kisah para pemudik yang melewati jalur darat dengan kendaraan pribadi merupakan kisah yang menarik, apalagi kalau kita salah satu pelakunya, he he

Karena keputusan saya adalah putar balik dan menggunakan transportasi umum yakni “kereta api” maka akhirnya saya sendiri lah yang “mudik”. Mengapa demikian? Karena mode transportasi kereta api saat ini sangat tertib karena seluruh penumpang wajib test covid-19 baik swab antigen, pcr, genose, atau yang lainnya, dimana test tersebut cukup memakan waktu karena harus ke wilayah kota dulu agar bisa test, sedangkan rumah saya di pedesaan. Akhirnya saya sendirian lah yang pergi ke “kota” untuk swab antigen, dan alhamdulilah negatif. Pilihan saya untuk swab antigen karena beberapa faktor, diantaranya:

  1. Test swab antigen cenderung cepat
    Proses pengambilan sampel pada test swab antigen yaitu dengan cara memasukkan alat test ke hidung dan diuji ke lab dengan cairan khusus (nama cairannya kurang tau ya)
  2. Hasil test dapat dilihat dalam beberapa menit (paling lama mungkin 1 jaman) tergantung jumlah pasien yang ikut test juga ya
    Walaupun kata orang, test ini tidaklah bisa meyakinkan bahwa saya memang tidak terkena covid-19 namun bagi saya test tersebut sudah sangat cukup untuk bekal mudik

Swab antigen diperoleh dengan harga 200rb an, harga yang cukup mahal ya, apalagi kalau melihat harga tiket kereta sudah hampir sama bahkan mungkin jauh lebih mahal harga swab dibandingkan tiket kereta ekonomi, he he he. Marilah kita berdoa agar pandemi ini segera berakhir agar perjalanan tidak dipersulit dengan test ini itu. Aamiin.

Masuk di perjalanan kereta, ternyata tidak separah seperti yang saya bayangkan. Tempat duduk di kereta rupanya sudah dibuat jaga jarak, jadi tempat duduk yang muat untuk dua orang hanya bisa diduduki oleh satu orang, yang tiga orang hanya bisa diduduki 2 orang dan seterusnya. Bagi saya, pelayanan KAI di masa pandemi sangatlah nyaman. Fasilitas konsumsi seperti makan berat (nasi), makan ringan (snack), dan minuman (teh, kopi, dll) serta bonus masker & tisu basah sudah tersedia di kereta api.

Masker ala KAI

Mengingat tempat duduk yang terbatas, saya lihat penumpang kereta di gerbong saya, tidak sampai separuhnya, mungkin sekitaran 15an penumpang dari total 106 penumpang dalam satu gerbong, wowww enak yaaa, he he. Dengan durasi perjalanan sekitar 12 jam an, menurut saya kereta api merupakan salah satu transportasi yang paling nyaman untuk perjalanan di masa pandemi ini.

Gerbong sisi depan
Gerbong sisi belakang

Sesampainya dirumah, sekitar pukul 19:00 malam, alhamdulilah saya disambut dengan hangat oleh kedua orang tua saya yang alhamdulilah masih sehat walaupun usia sudah tidak muda lagi. Makan malam terasa nikmat karena harus berjumpa lagi dengan “mendoan” dimana makanan tersebut adalah khas di daerah kami yang mungkin jarang ditemukan di tempat rantau. Selain itu ada juga makan kelas berat lainnya yang tidak perlu saya sebut satu per satu yaa.

Makanan terenak di dunia

Lebaran tahun lalu saya tidak mudik, tentunya lebaran di tahun ini saya tidak mau melewatkan begitu saja. Bagi saya, kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua harus tetap dijalankan walaupun terpisah oleh “jarak”. Jadi kalau dihitung-hitung mungkin 1 tahunan lebih saya tidak pulang, he he he. Kondisi lingkungan sekitar rumah bisa dikatakan sepi ya… teman sewaktu kecil sudah pulang kembali ke kota rantau, mungkin karena saya ini termasuk yang terlambat pulang.

Pada kesempatan hari berikutnya, saya masih bisa bersilaturahim ke kawan-kawan saya yang masih di “rumah” nya, dan alhamdulilah juga masih sehat-sehat semua. Saya juga masih bisa bersilaturahim ke rumah saudara saya yang dekat-dekat, yang jauh mohon maaf belum bisa kesana. Memang saya hanya bisa pergi dalam jarak yang tidak terlalu jauh karena faktor kendaraan ya. Kebetulan kendaraan saya dirumah apa adanya yaitu sepeda motor “lawas” yang saya pakai sejak saya SMA, tebak sendiri ya ges… Alhasil jangkauan saya tidak bisa jauh-jauh karena kondisi kendaraan yang tidak memungkinkan.

Di hari keempat, Jumat 21 Mei 2021, saya harus kembali pulang ke tanah rantau karena hari sabtu dan ahad ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tentunya cerita mudik saya tidak begitu menyenangkan karena hanya sebentar, atau bisa dibilang sangat singkat ya. Melihat saudara sehat, sahabat sehat, orang tua sehat bagi saya sudah cukup untuk mengobati rasa rindu yang sudah tahunan tidak bertemu.

Senja selalu menemani akhir perjalananku

Semoga kita semua diberi kesempatan kembali untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan Syawal tahun depan. Aamiin ya rabbal alamin.

Ngeblog di kereta

Sekian.
Tulisan ini diketik di dalam kereta api logawa 18 dan 21 Mei 2021.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.